Atas Nama Rakyat? May 1, 2009
Posted by koeninq in propaganda.add a comment
Kuping saya memanas mendengar berkali-kali mereka menyebut kalimat “untuk kepentingan rakyat”. Dengan alasan bak malaikat itu lantas mereka memposisikan diri sebagai penyelamat carut-marut bangsa. Mereka pikir rakyat masih bodoh.
Saya hanya agak terganggu dengan demikian mudahnya prinsip parpol-parpol itu berubah. Sebagai contoh adalah Wiranto dengan Hanura-nya. Bagaimana mungkin orang yang telah “tersakiti” oleh Golkar di tahun 2004 lalu, lantas kini malah memilih merapat ke partai beringin itu? Bila alasannya adalah adanya kesamaan antara dua partai itu, malah menjadi pertanyaan kenapa kemudian ia dulu harus hengkang dari Golkar dan membentuk partai baru?
Contoh lain adalah Permadi dan Gerindra-nya. Cukup unik ketika kini ia turut mendorong Prabowo untuk bisa bersanding dengan Megawati. Saya cuma teringat bagaimana Permadi dulu demikian vokal menyuarakan ketidak demokratisan di tubuh PDIP sebagai penyebab kemudian ia memilih (more…)
Ketika Burung Harus Jatuh (lagi) May 1, 2009
Posted by koeninq in propaganda.add a comment
Burung besi Indonesia rontok lagi kemarin. Pesawat latih milik Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia jatuh di daerah Bogor. Rasanya belum hilang dari ingatan kita bagaimana beberapa waktu lalu pesawat Mimika Air jatuh di Papua sana.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan situasi penerbangan kita saat ini. Bukan hanya pesawat komersil, pesawat latih bahkan pesawat militerpun silih berganti mengisi pemberitaan televisi. Sebagai orang awam saya tak mengerti tentang faktor-faktor kenapa sebuah pesawat bisa mengalami gangguan dalam penerbangan. Namun sebagai orang awam pula, saya bisa menyimpulkan bahwa ada yang tak beres dengan penanggungjawab pengawasan pesawat-pesawat di negeri ini.
Saya hanya berharap semoga pesawat-pesawat kita, terutama milik militer, habis jumlahnya karena aksi-aksi heroik untuk mempertahankan jengkal demi jengkal tanah air Indonesia, dan bukannya habis karena jatuh satu per satu dengan penyebab yang tak jelas juntrungannya. Semoga saja…
Kasus Manohara: Siapa Bersalah? May 1, 2009
Posted by koeninq in propaganda.add a comment
Manohara Odelia Pinot, nama indah ini demikian santer disebut belakangan hari. Kasus dugaan penculikan yang tampaknya mudah untuk diselesaikan ternyata menjadi sedemikian sulit. Tak dapat dicegah kalau hal ini malah mendapat variasi persepsi dari publik. Ada yang menyalahkan pihak Malaysia, ada pula yang menyalahkan pemerintah Indonesia, bahkan ada pula yang menempatkan ibunda Mano sebagai pesakitan yang bersalah dalam kasus ini.
Kasus ini rumit karena ternyata pernikahan Mano sendiri bisa dianggap pelanggaran dalam Undang-Undang negara kita. Mano yang masih di bawah umur saat itu jelas tak boleh dinikahkan menurut konstitusi kita. Bila kita komparasi dengan kasus Syeh Puji, maka posisi ibu Mano dan sang anak sultan bisa dijadikan tersangka. Karena suami Mano bukan WNI, maka tersangka tunggalnya adalah ibu Mano yang selama ini tampil dengan image teraniaya di layar televisi.
Hal lain yang mempersulit dalam kasus ini adalah (more…)
Ketika Tersenyum Itu Mahal February 20, 2009
Posted by koeninq in propaganda.add a comment
Cobalah berjalan di beberapa wilayah Jabotabek belakangan ini. Ironis. Di tengah suasana mimpi buruk pasca banjir dan derap lunglai ribuan pengemis tanpa alas kaki, puluhan bahkan ratusan wajah bersenyum lebar terpampang menatap nasib ibukota yang tanpa masa depan. Di setiap sudut, di pokok-pokok pohon, bahkan di tempat-tempat yang kadang membuat kita berpikir keras bagaimana potret sumringah itu bisa melekat di sana. Para “mereka yang mengaku peduli” itu menjual mimpi dan harapan di tengah kebisingan dan jerit tangis warga bantaran kali yang tiap hari lenyap tersapu lautan ombak sampah hitam menggunung.
Heran. Apa yang sesungguhnya disenyumkan para “mereka yang mengaku peduli” itu. Senyum puas karena berhasil menderitakan rakyat, senyum picik untuk menutupi gurat-gurat penipu, atau senyum getir karena takut tak terpilih dan merugi ratusan juta rupiah. (more…)
Obama vs Osama February 20, 2009
Posted by koeninq in propaganda.add a comment
Demam Obama memang melanda bangsa kita beberapa waktu yang lalu. Cukup mengherankan, karena sesungguhnya Obama sama sekali tak punya darah Indonesia. Ia hanya pernah mengenyam Sekolah Dasar di sini sebelum kemudian kembali ke negaranya (itupun jika bukan karena sakit hati dengan mutu pendidikan negeri ini). Aneh, tapi sejak kapan bangsa ini menjadi bangsa yang mudah GR begini?
Obama memang sosok penting dalam sejarah panjang Amerika. Mewakili kaum berkulit minoritas, bernama tengah ke-Arab-an, berusia muda, dan bukan dari golongan ekonomi kuat, menjadikan Obama seperti akan membawa perubahan besar bagi Paman Sam, dunia, dan juga Indonesia (kembali GR).
Akan tetapi, Amerika bukan negara “kemarin sore”. Dinasti sistem pengendali pemerintahan telah terstruktur dan jauh lebih kuat dari (more…)
August Rush: Berlebihan! February 20, 2009
Posted by koeninq in movie review.add a comment
Film ini berkisah tentang Evan Taylor (Freddie Highmore), anak lelaki dengan bakat musik luar biasa yang hidup di panti asuhan New York. Evan bukannya tak punya orang tua, ayahnya Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers) adalah gitaris merangkap vokalis sebuah band rock, sedangkan ibunya Lyla Novacek (Keri Russell) adalah pemain cello ternama di Amerika.
Karena kisah cinta kedua orang tuanya tak direstui oleh ayah Lyla, maka mereka pun dipisahkan. Tragisnya, Louis tidak mengetahui kalau Lyla telah hamil, sedangkan Lyla diberitahu kalau anak yang dilahirkannya telah tewas ketika baru saja dilahirkan. Jadilah Louis dan Lyla terpisah tanpa mengetahui bahwa Evan sesungguhnya masih hidup dan sedang menunggu mereka di panti asuhannya.
Cerita pencarian Evan pun dimulai saat ia pergi meninggalkan panti dan bertemu dengan Wizard (Robbie Williams) seorang “koordinator” musisi-musisi jalanan cilik di New York. Evan yang kemudian diberi nama samaran August Rush pun dipaksa (more…)
What If… February 20, 2009
Posted by koeninq in philosophia.add a comment
Tentunya kita semua pernah mendengar slogan dari sebuah merk rokok ini. Iklan yang bertajuk evolusi dan bagaimana hal-hal yang tidak masuk akal kemudian dipertontonkan sebagai sebuah keniscayaan.
Tapi tidakkah kata-kata ini menarik ruang generator pemikiran kita? Tidakkah kelanjutan dan pelengkapan kalimatnya menjadi menarik untuk dilanjutkan? Pertanyaannya adalah kenapa? Kenapa seakan kata “if” yang di-Indonesiakan menjadi “jika” selalu mengundang pertanyaan jika kemudian tidak dilanjutkan?
Jika adalah sebuah kata yang paling unik. Bukan karena susunan huruf penyusunnya, tapi lebih dikarenakan maksud dan awal musabab kenapa kita kemudian menggunakannya. Jika adalah sebuah bentuk dari harapan, tapi bukankah jika juga bisa terlahir dari penyesalan? Karena berharaplah lantas kita mengatakan “jika aku besar nanti, aku akan menjadi…”, dan karena menyesal pulalah kemudian kita mengatakan (more…)
A Moment To Remember: Prototipe Film Korea February 20, 2009
Posted by koeninq in movie review.add a comment
Awal film ini memang cukup merangsang kita untuk mengikuti lebih dalam kelanjutan ceritanya. Di bagian itu pertemuan antara So-Jin (Son Ye-jin) dan Chul-soo (Baek Jong-hak) digambarkan dengan efisien dan menarik hanya karena kesalahpahaman akibat sekaleng minuman soda. So-jin yang pelupa dan Chul-soo sebagai sosok “cool”, tegas, dan tanpa basa-basi dikesankan dengan jelas di sini.
Hubungan mereka pun semakin erat ketika So-jin yang juga putri pengusaha bertemu kembali dengan Chul-soo yang menjadi mandor idealis di proyek ayahnya tersebut. Keakraban mereka pun berlanjut hingga ke pelaminan.
Cerita memanas ketika So-jin divonis menderita (more…)
Emberesia February 18, 2009
Posted by koeninq in propaganda.add a comment
Pernahkah Anda melihat film City of Ember? Bukan, saya bukan bermaksud meresensi film itu di sini. Anda dapat melihat resensinya di bagian lain blog ini. Saya hanya ingin mengutip sebuah adegan di film fiksi itu.
Diceritakan bahwa para penduduk Ember yang baru lulus sekolah dikumpulkan di sebuah tempat dan menunggu pembagian kertas-kertas kepada mereka. Kertas itu bukan kertas biasa, kertas itu berisi jenis pekerjaan yang harus mereka lakukan sebagai bagian dari pengabdian kepada Ember. Ada pekerja pipa, pengawas boiler, hingga ke pembawa pesan (semacam tukang pos).
Unik, karena cara itu mungkin berhasil mengatasi pengangguran di sana. Tapi bagaimana menurut Anda jika itu diterapkan di kenyataan, di negara kita misalnya?
Memang tidak logis, karena pembagian kerja lebih terlihat seperti pengumuman undian kupon iklan sabun daripada (more…)
Kartini Tak Berkalung Surban February 18, 2009
Posted by koeninq in propaganda.add a comment
Siapa tak kenal sosok yang satu ini? Sutradara muda dengan bagitu banyak karya. Mendobrak film-film horor murahan dengan film kelas wahid seperti menjadi jalan hidupnya. Lihatlah karya-karyanya seperti Get Married ataupun Ayat-ayat Cinta yang sedemikian booming di bioskop-bioskop tanah air. Kesan katro dan tak berpendidikan amat jauh dari film-film garapannya.
Tapi sosok brilian itu mendapat benturan keras belakangan ini. Film terbarunya Perempuan Berkalung Surban (PBS), mendapat kecaman di sana sini. Kecaman paling keras datang dari tokoh-tokoh pesantren yang amat sangat kecewa dengan pencitraan buruk pesantren dalam film itu. Dalam debat di TVOne beberapa waktu lalu, tampak jelas kegusaran alumnus-alumnus pesantren terhadap karya Hanung yang satu ini.
Kesan pengekangan agama (walau Hanung menyatakan yang mengekang adalah budaya) dan tuntutan emansipasi ala kaum feminis progresif (more…)