Kartini Tak Berkalung Surban February 18, 2009
Posted by koeninq in propaganda.trackback
Siapa tak kenal sosok yang satu ini? Sutradara muda dengan bagitu banyak karya. Mendobrak film-film horor murahan dengan film kelas wahid seperti menjadi jalan hidupnya. Lihatlah karya-karyanya seperti Get Married ataupun Ayat-ayat Cinta yang sedemikian booming di bioskop-bioskop tanah air. Kesan katro dan tak berpendidikan amat jauh dari film-film garapannya.
Tapi sosok brilian itu mendapat benturan keras belakangan ini. Film terbarunya Perempuan Berkalung Surban (PBS), mendapat kecaman di sana sini. Kecaman paling keras datang dari tokoh-tokoh pesantren yang amat sangat kecewa dengan pencitraan buruk pesantren dalam film itu. Dalam debat di TVOne beberapa waktu lalu, tampak jelas kegusaran alumnus-alumnus pesantren terhadap karya Hanung yang satu ini.
Kesan pengekangan agama (walau Hanung menyatakan yang mengekang adalah budaya) dan tuntutan emansipasi ala kaum feminis progresif memang kental sekali di sepanjang film tersebut. Simbol-simbol Islam banyak sekali yang diubah seenaknya menjadi belenggu-belenggu anti-kemapanan. Rasanya Hanung memang agak tidak proporsional untuk bagian ini.
Sesungguhnya konsep berpikir film ini sangat menarik untuk ditelaah lebih dalam. Memang tak bisa dipungkiri banyak sekali konflik berbasis gender yang mengemuka di negeri ini. Pelecehan seksual oleh kaum lelaki terhadap wanita, pelecehan antar wanita sendiri, bahkan pelecehan diri sendiri oleh wanita memang tergambar jelas di ruang-ruang surat kabar tanah air. PBS hadir dengan ide pemunculan Kartini di zaman modern. Tak ada yang salah memang. Cerita seperti ini memang membutuhkan peradaban jahat untuk ditabrak dengan keras dan kemudian dihancurkan.
Kesalahan fatal Hanung ada pada pemilihan “peradaban jahat”-nya. Penempatan pesantren dan kyai-kyai di film itu terlalu sensitif untuk ditempatkan di sana, apalagi untuk ditabrak dan kemudian dihancurkan.
Tampaknya Hanung harus belajar banyak untuk pemilihan setting ceritanya. Bangsa ini masih sangat menghormati para kyai, dan pesantrenpun masih sangat “suci” untuk dikotori oleh citra-citra semacam itu.
Agaknya kalau film ini memang ingin menampilkan konsep emansipasi progresif semacam itu, kenapa tidak mencoba mengambil setting di RS Mitra Keluarga yang sempat tergeret kasus pelarangan jilbab bagi karyawannya, atau coba menggali lebih dalam dunia entertainment kita, bagaimana seorang artis harus mau tampil genit lengkap dengan pakaian minim bila tak mau karirnya jeblok. Kenapa Hanung harus mengambil setting di pesantren yang notabene tidak berada di puncak peringkat lokasi diskriminasi terbesar di dunia ini. Masih banyak pilihan lain. Semoga fenomena PBS ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.
Comments»
No comments yet — be the first.